About

LightBlog

Breaking

LightBlog

Kamis, 26 Oktober 2017

Sujud Kendang

   
Sujud Sutrisno lahir pada tanggal 20 September 1953 di Tegal Kepatihan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sujud adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Kedua orang tua Sujud adalah seniman tradisional cokekan. Ayah Sujuh bernama Wiro Sumarto dan ibunya bernama Ruminten. Ketika masih berumur beberapa bulan setelah lahir, keluarga Wiro Sumarto pindah keyogyakarta. Tepatnya didaerah patuk, kemertiran, Yogyakarta kemudian pindah lagi didaerah Badran, Yogyakarta.
   
Pendidikan formal yang pernah dilaluinya sampai dengan lulus adalah di tingkat Sekolah Dasar. Ketika melanjutkan ke jenjang selanjutnya diSekolah Menengah Pertama, terpaksa Sujud tidak dapat menyelesaikannya. Faktor klise yang selalu saja menjadi penyebabnya adalah biaya.
    Pada tahun 1970, Sujud menikah dengan Suwakidah, seorang wanita yang menjadi pendamping hidupnya. Suwakidah sendiri adalah seorang janda yang telah memiliki dua orang anak sebelum menikah dengan Sujud Sutrisno. Sebenarnya nama asli atau nama kecil bemerian orang tuanya adalah Sujud, tetapi setelah berumah tangga Sujud menambahnya dengan Sutrisno sebagai nama belakangnya sehingga menjadi Sujud Sutrisno hingga saat ini.
    Setelah menikah, Sujud beserta istrinya tinggal di sebuah rumah petak yang merupakan rumah kontrakan di kampong Notoyudan Yogyakarta. Tepatnya beralamat di Notoyudan GT II/1175 RT. 082, RW. 023, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedong Tengah, Kotamadya Yogyakarta. Hingga saat ini Sujud masih tinggal di daerah tersebut.
    Sujud memilih profesi sebagai seorang pemusik sebagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia telah mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk menjadi pemusik kendang. Dari hasil pekerjaannya sebagai seorang pemusik jalanan, Sujud mencoba menjalani hidup sebagaimana masyarakat lainnya pada umumnya : mengikuti kegiatan kampong dimana Sujud tinggal, iuran kampung  sebagaimana telah menjadi kesepakatan bersama warga masyarakat didaerah tesebut. Intinya, Sujud mencoba menjalani hidup bermasyarakat seperti warga lainnya.
    Pada saat ini sujud sutrisno atau yang lebih akrab dipanggil sujud kendang tinggal sendirian Pada tahun 2001 istri tercintanya meninggal dunia. Dari hasil perkawinannya itu sujud belum dikaruniai anak kecuali anak bawaan dari istrinya sebelum menikah dengan sujud. Walau begitu, sujud tetap merasa beruntung dengan adanya anak bawaan dari istrinya tersebut. Menurutnya jika sudah tua nanti tetap ada yang merawatnya.
    Sebagai seorang seniman, Sujud sudah sangat dikenal dikalangan seniman Yogyakarta. Keterlibatannya bersama seniman-seniman yang lain untuk pentas diacara-acara tertentu membuat namanya semakin dikenal mayarakat. Dengan warna musiknya yang khas dimana media humor yang dipakainya, seperti lirik-lirik lagu yang jenakan membuatnya disenangi oleh masyakat.
    Sujud tidak hanya sekedar mengamen atau pentas diacara-acara kesenian. Ia juga sering mengisi acara-acara yang bersifat upacara, seperti Syawalan, Natalan, sunatan, pernikahan, syukuran bahkan ruwatan. Ini menunjudkkan bahwa peranan Sujud bisa diterima disemua kalangan. Menurut Sapto Rahardjo, segmen sujud sangat lebar dimana semua kalangan masyarat menerima music humornya karena untuk menghibur atau membuat orang gembira tidaklah gampang. 1
    Kreativitas Sujud dengan musik humornya banyak yang mengakui. Sapto Rahardjo menyebut Sujud termasuk salah satu seniman jawa yang mencoba menjual karya untuk menghibur massa. Sujud bias dikategorikan seniman popular yang selalu ingin memenuhi keinginan masyarakat. Kreasi dan improvisasinya patut dihargai dalam rangka mencoba memasarkan kesenian jawa. Sujud adalah seniman yang menyajikan musik tradisional dalam kemasan popular.2
    Sebagai seorang pemusik jalanan, Sujud tidak semata-mata menghibur untuk mendapatkan uang tetap juga untuk menjalin hubungan dengan sesame. Baginya menjaga hubungan baik dengan setiap orang adalah penting karena semua manusia itu bersaudara.3 Ini terbukti dengan adanya permintaan dari beberapa orang yang meminta sujud untuk rutin mengamen di rumahnya. Ada yang meminta sebulan sekali bahkan seminggu sekali untuk dating menghibur. Bahkan dihari lebaran, sujud selalu memberi kartu lebaran kepada setiap rumah seusai menyanyikan lagu.4 Bisa dikatakan bahwa sujud memiliki pelanggan tetap. Ssebagai contoh adalah diwilayah Gedongkuning Yogyakarta, sujud memiliki 15 pelanggan.
    Sebagai orang jawa, sujud berprinsip bahwa menjadi orang jawa jangan meniggalkan asalnya tetap harus selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan yang maha kuasa. Meski pengalaman berkeseniannya sudah sangat luas, bahkan pernah tampil diacara bertaraf internasional, sujud tetapkan seperti yang dulu. Mengamen dari rumah kerumah, dari kampong ke kampong tetap dijalaninya. Hingga akhirnya untuk mengganti istilah pengamen yang berkonotasi kurang baik, sujud menyebut dirinya sebagai petugas PPRT yaitu singkatan dari Penarik pajak rumah tangga.
    Sujud selalu meminta ijin terlebih dahulu sebelum menyanyikan lagu-lagu humornya disetiap rumah yang didatanginya. Sujud bersemboyan bahwa jika diberi ia berterima kasih, tetap jika diberi juga tidak mengapa. Sebab menurutnya, ia datang tidak diundang, ia dating karena keinginan sendiri, jadi jika tidak diterima juga tidak  apa-apa.
    Sujud Sutrisno lahir dari keluarga yang berkecimpung didunia kesenian. Kedua orang tua sujud adalah seniman tradisional cokekan. Ayahnya adalah seorang pengrawit yang memliki keahlian khusus atau spesialis pada alat musik siter, sedangkan ibunya adalah seorang sinden. Sujud sejak kecil biasa memainkan kendang. Kedua adik kandung sujud yang bernama Gudel dan Welas, dimana keduanya adalah perempuan, juga ikut terlibat dalam kesenian ini. Mereka menjadi sinden juga bersama ibu mereka dalam kelompok kesenian tersebut. Dari kesenian itulah sujud mulai belajar memainkan kendang dan bersama orang tuanya pentas diberbagai acara. Sejak kecil sujud sudah terbiasa pentas bersama kelompok kesenian cokekan yang beranggotakan sepuluh orang termasuk kedua orang tuanya yang merupakan coordinator kelompok tersebut. Kelompok tersebut main jika ada tanggapan atau permintaan pentas, seperti acara pernikahan, syukuran, dan bahkan untuk acara-acara yang bersifat keagamaan seperti Natalan dan syawalan.
    Cokekan adalah penyajian karawitan atau kelenengan yang terbatas karena hanya menggunakan instrumen : (1)  gambang slendro atau pelog, (2) siter slendro atau pelog, (3) kendang, dan (4) gong kemodhong atau gong bumbung. Dapat juga cokekan menggunakan seperangkat alat yang sederhana lagi, yaitu : (1) gender barung, (2) kendang, dan (3) gong kemodhong atau gong bumbung. Setiap daerah mempunyai pilihan sendiri atas jenis perangkat gamelan yang digunakan dalam cokekan.5
    Ketika masih duduk dikelas tiga SD (sekolah Dasar ), sujud pertama kali mengamen. Sepulang sekolah dipergi hari kemudian sujud mengamen. Ada pengalaman menarik waktu itu, dimana sujud pernah mengamen dirumah gurunya.
    Pada tahun 1972, ayah sujud sutrisno meninggal dunia. Sujud tetap meninggal dunia.
Sujud tetap meneruskan berkesenian. Satu-satunya peninggalan ayahnya yang paling berharga adalah sebuah kendang tua. Kendang itu adalah kendang ketipung yang digunakan untuk menghibur dengan music humornya keluar-masuk kampong dari rumah kerumah. Kemusikan baru pada tahun 1979, kendang tua itu harus diganti.Kayu dan kulit kendang sudah mulai lapuk dimakan usia. Dengan tabungan hasil mengamen, Sujud membeli kendang ketipung yang baru seharga Rp. 28.500,00. Kendang itulah yang digunakan sujud untuk mengamen dimanapun dan kemana pun hingga saat ini.

    Sujud adalah seorang pemusik jalanan. Ia tidak hanya menghibur orang dengan musik humornya dari rumah kerumah tetap juga tampil diatas panggung. Ketika tampil diatas panggung, terkadang sujud tidak selalu bermain tunggal. Didik Nini Thowok, Waljinah, ki anom suroto, sapto raharjo dan marwoto adalah sekian dari nama-nama seniman yang akrab dengan sujud dan pernah tampil bersama. Jauh sebelumnya, sujud bahkan pernah terlibat aktif selama 6 bulan dalam Teater alam bersama noor W.A dan azwar A.N. Sujud pernah mendirikan kelompok music dangdut bersama teman-temannya yang juga sering ngamen. Namanya putra kelana yang sempat rutin latihan dua kali dalam seminggu. Tetapi kelompok putra kelana tidak lama kemudian akhirnya bubar dikarenakan beberapa personil sudah bekerja sehingga kesulitan membagi waktu untuk latihan. Juga pernah bermain sebagai pengendang juga bersama orkes melayu teratai dan intan sahara.6 Sujud memang sangat menyukai kesenian sehingga ia tidak segan-segan untuk bekerjasama dengan seniman lainnya terutama dibidang seni pertunjukan untuk mengekspresikan kemampuan yang ia miliki.

Sumber: 
titilaras.com (Gambar Sujud Kendang) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox