Sujud Sutrisno lahir pada tanggal 20 September 1953 di Tegal Kepatihan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sujud adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Kedua orang tua Sujud adalah seniman tradisional cokekan. Ayah Sujuh bernama Wiro Sumarto dan ibunya bernama Ruminten. Ketika masih berumur beberapa bulan setelah lahir, keluarga Wiro Sumarto pindah keyogyakarta. Tepatnya didaerah patuk, kemertiran, Yogyakarta kemudian pindah lagi didaerah Badran, Yogyakarta.
Pada tahun 1970, Sujud menikah dengan
Suwakidah, seorang wanita yang menjadi pendamping hidupnya. Suwakidah sendiri
adalah seorang janda yang telah memiliki dua orang anak sebelum menikah dengan
Sujud Sutrisno. Sebenarnya nama asli atau nama kecil bemerian orang tuanya
adalah Sujud, tetapi setelah berumah tangga Sujud menambahnya dengan Sutrisno
sebagai nama belakangnya sehingga menjadi Sujud Sutrisno hingga saat ini.
Setelah menikah, Sujud beserta istrinya
tinggal di sebuah rumah petak yang merupakan rumah kontrakan di kampong Notoyudan
Yogyakarta. Tepatnya beralamat di Notoyudan GT II/1175 RT. 082, RW. 023,
Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedong Tengah, Kotamadya Yogyakarta. Hingga
saat ini Sujud masih tinggal di daerah tersebut.
Sujud memilih profesi sebagai seorang pemusik
sebagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia telah mengabdikan
dirinya sepenuhnya untuk menjadi pemusik kendang. Dari hasil pekerjaannya
sebagai seorang pemusik jalanan, Sujud mencoba menjalani hidup sebagaimana
masyarakat lainnya pada umumnya : mengikuti kegiatan kampong dimana Sujud
tinggal, iuran kampung sebagaimana telah
menjadi kesepakatan bersama warga masyarakat didaerah tesebut. Intinya, Sujud
mencoba menjalani hidup bermasyarakat seperti warga lainnya.
Pada saat ini sujud sutrisno atau yang lebih
akrab dipanggil sujud kendang tinggal sendirian Pada tahun 2001 istri
tercintanya meninggal dunia. Dari hasil perkawinannya itu sujud belum
dikaruniai anak kecuali anak bawaan dari istrinya sebelum menikah dengan sujud.
Walau begitu, sujud tetap merasa beruntung dengan adanya anak bawaan dari
istrinya tersebut. Menurutnya jika sudah tua nanti tetap ada yang merawatnya.
Sebagai seorang seniman, Sujud sudah sangat
dikenal dikalangan seniman Yogyakarta. Keterlibatannya bersama seniman-seniman yang
lain untuk pentas diacara-acara tertentu membuat namanya semakin dikenal
mayarakat. Dengan warna musiknya yang khas dimana media humor yang dipakainya,
seperti lirik-lirik lagu yang jenakan membuatnya disenangi oleh masyakat.
Sujud tidak hanya sekedar mengamen atau
pentas diacara-acara kesenian. Ia juga sering mengisi acara-acara yang bersifat
upacara, seperti Syawalan, Natalan, sunatan, pernikahan, syukuran bahkan
ruwatan. Ini menunjudkkan bahwa peranan Sujud bisa diterima disemua kalangan.
Menurut Sapto Rahardjo, segmen sujud sangat lebar dimana semua kalangan
masyarat menerima music humornya karena untuk menghibur atau membuat orang
gembira tidaklah gampang. 1
Kreativitas Sujud dengan musik humornya
banyak yang mengakui. Sapto Rahardjo menyebut Sujud termasuk salah satu seniman
jawa yang mencoba menjual karya untuk menghibur massa. Sujud bias dikategorikan
seniman popular yang selalu ingin memenuhi keinginan masyarakat. Kreasi dan
improvisasinya patut dihargai dalam rangka mencoba memasarkan kesenian jawa.
Sujud adalah seniman yang menyajikan musik tradisional dalam kemasan popular.2
Sebagai seorang pemusik jalanan, Sujud tidak
semata-mata menghibur untuk mendapatkan uang tetap juga untuk menjalin hubungan
dengan sesame. Baginya menjaga hubungan baik dengan setiap orang adalah penting
karena semua manusia itu bersaudara.3 Ini terbukti dengan adanya permintaan
dari beberapa orang yang meminta sujud untuk rutin mengamen di rumahnya. Ada
yang meminta sebulan sekali bahkan seminggu sekali untuk dating menghibur.
Bahkan dihari lebaran, sujud selalu memberi kartu lebaran kepada setiap rumah
seusai menyanyikan lagu.4 Bisa dikatakan bahwa sujud memiliki pelanggan tetap.
Ssebagai contoh adalah diwilayah Gedongkuning Yogyakarta, sujud memiliki 15
pelanggan.
Sebagai orang jawa, sujud berprinsip bahwa
menjadi orang jawa jangan meniggalkan asalnya tetap harus selalu bersyukur atas
apa yang telah diberikan yang maha kuasa. Meski pengalaman berkeseniannya sudah
sangat luas, bahkan pernah tampil diacara bertaraf internasional, sujud
tetapkan seperti yang dulu. Mengamen dari rumah kerumah, dari kampong ke
kampong tetap dijalaninya. Hingga akhirnya untuk mengganti istilah pengamen
yang berkonotasi kurang baik, sujud menyebut dirinya sebagai petugas PPRT yaitu
singkatan dari Penarik pajak rumah tangga.
Sujud selalu meminta ijin terlebih dahulu
sebelum menyanyikan lagu-lagu humornya disetiap rumah yang didatanginya. Sujud
bersemboyan bahwa jika diberi ia berterima kasih, tetap jika diberi juga tidak
mengapa. Sebab menurutnya, ia datang tidak diundang, ia dating karena keinginan
sendiri, jadi jika tidak diterima juga tidak
apa-apa.
Sujud Sutrisno lahir dari keluarga yang
berkecimpung didunia kesenian. Kedua orang tua sujud adalah seniman tradisional
cokekan. Ayahnya adalah seorang pengrawit yang memliki keahlian khusus atau
spesialis pada alat musik siter, sedangkan ibunya adalah seorang sinden. Sujud
sejak kecil biasa memainkan kendang. Kedua adik kandung sujud yang bernama
Gudel dan Welas, dimana keduanya adalah perempuan, juga ikut terlibat dalam
kesenian ini. Mereka menjadi sinden juga bersama ibu mereka dalam kelompok
kesenian tersebut. Dari kesenian itulah sujud mulai belajar memainkan kendang
dan bersama orang tuanya pentas diberbagai acara. Sejak kecil sujud sudah
terbiasa pentas bersama kelompok kesenian cokekan yang beranggotakan sepuluh
orang termasuk kedua orang tuanya yang merupakan coordinator kelompok tersebut.
Kelompok tersebut main jika ada tanggapan atau permintaan pentas, seperti acara
pernikahan, syukuran, dan bahkan untuk acara-acara yang bersifat keagamaan
seperti Natalan dan syawalan.
Cokekan adalah penyajian karawitan atau
kelenengan yang terbatas karena hanya menggunakan instrumen : (1) gambang slendro atau pelog, (2) siter slendro
atau pelog, (3) kendang, dan (4) gong kemodhong atau gong bumbung. Dapat juga
cokekan menggunakan seperangkat alat yang sederhana lagi, yaitu : (1) gender
barung, (2) kendang, dan (3) gong kemodhong atau gong bumbung. Setiap daerah
mempunyai pilihan sendiri atas jenis perangkat gamelan yang digunakan dalam
cokekan.5
Ketika masih duduk dikelas tiga SD (sekolah
Dasar ), sujud pertama kali mengamen. Sepulang sekolah dipergi hari kemudian
sujud mengamen. Ada pengalaman menarik waktu itu, dimana sujud pernah mengamen
dirumah gurunya.
Pada tahun 1972, ayah sujud sutrisno
meninggal dunia. Sujud tetap meninggal dunia.
Sujud tetap
meneruskan berkesenian. Satu-satunya peninggalan ayahnya yang paling berharga
adalah sebuah kendang tua. Kendang itu adalah kendang ketipung yang digunakan
untuk menghibur dengan music humornya keluar-masuk kampong dari rumah kerumah.
Kemusikan baru pada tahun 1979, kendang tua itu harus diganti.Kayu dan kulit
kendang sudah mulai lapuk dimakan usia. Dengan tabungan hasil mengamen, Sujud
membeli kendang ketipung yang baru seharga Rp. 28.500,00. Kendang itulah yang
digunakan sujud untuk mengamen dimanapun dan kemana pun hingga saat ini.
Sujud adalah seorang pemusik jalanan. Ia
tidak hanya menghibur orang dengan musik humornya dari rumah kerumah tetap juga
tampil diatas panggung. Ketika tampil diatas panggung, terkadang sujud tidak
selalu bermain tunggal. Didik Nini Thowok, Waljinah, ki anom suroto, sapto
raharjo dan marwoto adalah sekian dari nama-nama seniman yang akrab dengan
sujud dan pernah tampil bersama. Jauh sebelumnya, sujud bahkan pernah terlibat
aktif selama 6 bulan dalam Teater alam bersama noor W.A dan azwar A.N. Sujud
pernah mendirikan kelompok music dangdut bersama teman-temannya yang juga
sering ngamen. Namanya putra kelana yang sempat rutin latihan dua kali dalam
seminggu. Tetapi kelompok putra kelana tidak lama kemudian akhirnya bubar
dikarenakan beberapa personil sudah bekerja sehingga kesulitan membagi waktu
untuk latihan. Juga pernah bermain sebagai pengendang juga bersama orkes melayu
teratai dan intan sahara.6 Sujud memang sangat menyukai kesenian sehingga ia
tidak segan-segan untuk bekerjasama dengan seniman lainnya terutama dibidang
seni pertunjukan untuk mengekspresikan kemampuan yang ia miliki.
Sumber:
titilaras.com (Gambar Sujud Kendang)
Sumber:
titilaras.com (Gambar Sujud Kendang)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar